Random Al Qur'an

Login Form






Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar

Random News

Mudah-mudahan, AA Gym dan ust Arifin Ilham tidak sengaja!
Serpong (aai-news) :Ketika diminta komentar mengenai  acara Indonesia Berdzikir hari Ahad 24 Agustus 2008 di Istiqlal yang dihadiri Ust Arifin...
ORANG YANG TIDAK BOLEH MENJADI IMAM SHALAT
Dalam shalat berjamaah, di antara syarat-syarat bermakmum adalah seorang imam haruslah qari', yaitu orang yang mampu membaca al-Qur’an...
Gerakan Membaca Qur'an (GMQ)
(aai-news) Pandeglang, Banten:Dalam rangka menyambut datang nya Sayyidus Syuhur, Bulan Ramadhan, pada 23 Agustus 2008 yang lalu, Ketua Jatiqo...
Home
Tafsir ayat ayat Yaasin (pada Yaasin Fadhilah)
Rabu, 24 Juni 2009

Ayat 1 :   يس

Asbabun Nuzul

Abu Na'im di dalam kitab Dalaail-nya mengetengahkan sebuah hadits yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas r.a  yang menceritakan bahwa Rasulullah  SAW  membaca surah As Sajdah, lalu beliau mengeraskan bacaannya, sehingga membuat segolongan orang-orang Quraisy merasa terganggu karenanya. Lalu mereka bangkit hendak memukul Rasulullah SAW, akan tetapi tiba-tiba tangan mereka menjadi kaku menempel pada leher-leher mereka dan tiba-tiba mereka tidak dapat melihat sama sekali. Kemudian mereka mendatangi Nabi SAW seraya meminta kepadanya, "Kami minta pertolongan kepadamu demi Allah dan demi hubungan silaturahmi kita, hai Muhammad!", maka Rasulullah SAW mendoakan mereka sehingga keadaan mereka normal kembali. Lalu turunlah firman-Nya, "Yaa Siin. Demi Alquran yang penuh hikmah." (Q.S. Yasin, 1-2) sampai dengan firman-Nya, "...ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." (Q.S. Yasin, 10). Selanjutnya sahabat Ibnu Abbas menceritakan, bahwa ternyata tidak ada seorang pun dari mereka itu yang mau beriman. Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadits melalui Ikrimah yang menceritakan, bahwa Abu Jahal telah mengatakan, "Sungguh jika aku melihat Muhammad, aku akan hajar dia dan aku akan melakukan demikian dan demikian." Lalu Allah  SWT menurunkan firman Nya, "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka..." (Q.S. Yasin, 8). sampai pada firman-Nya, "...sehingga mereka tidak dapat melihat." (Q.S. Yasin, 9). Orang-orang mengatakan kepadanya, "Inilah Muhammad", akan tetapi Abu Jahal berkata, "Mana dia? mana dia?", sedangkan ia tidak dapat melihat.

 

Tafsir

Pada surah-surah sebelumnya telah dibicarakan mengenai awal surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad, yang pada kesimpulannya disebutkan bahwa pendapat yang terkuat menetapkan huruf-huruf abjad itu dimaksudkan sebagai peringatan untuk membangkitkan minat orang yang membacanya kepada hal-hal penting yang akan disebutkan dalam ayat-ayat sesudahnya. Akan tetapi dari riwayat Ibnu `Abbas diperoleh keterangan bahwa "Ya Sin" bermakna "Ya Insan" (Wahai manusia) yakni wahai Muhammad. Demikian pula pendapat Abu Hurairah, Ikrimah, Dahhak, Sofyan lbnu Uyainah dan Said Ibnu Jubair: "Ya Sin" itu kata mereka berasal dari logat Habsyah. Sedang Malik yang meriwayatkan dari Zaid bin Aslam menyebutkan arti Ya Sin ialah kependekan dari nama-nama Allah SWT. Ada lagi yang berpendapat "Ya Sin" ringkasan dari kalimat "Ya Sayidah Basyar", yakni Nabi Muhammad  SAW  sendiri. Atau ia adalah salah satu nama dari Alquran.

 

Ayat 9 :

(وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ)

Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat Melihat.

 

Tafsir:

(Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding) lafal Saddan dalam dua tempat tadi boleh dibaca Suddan (dan Kami tutup -mata- mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.) Ini merupakan tamtsil yang menggambarkan tertutupnya jalan iman bagi mereka. (Jalalain)

 

Kemudian digambarkan pula bahwa orang-orang yang tidak beriman itu memandang baik amal-amal jahat yang mereka kerjakan. Hal demikian menyebabkan mereka menjadi takjub dan sombong, sehingga mereka enggan mengikuti Rasul. Pikirannya tertutup dari kebenaran, dari apa yang dapat mendatangkan manfaat, karena itu tidaklah ada yang bisa mereka pahami kecuali apa yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka saja. Ringkasnya mereka selalu berada dalam penjara kebodohan, seolah-olah ada dinding tembok yang memisahkan mereka dengan hati mereka hingga tidak bisa berpikir dan merenungkan dalil-dalil kebenaran ajaran yang dibawa Rasul itu. Ada pula yang mengartikan dinding yang menghalangi itu dengan hijab, hingga berarti Allah  SWT menjadikan hijab yang menghalangi orang-orang musyrik untuk menyakiti Rasul. Sedang mata yang tertutup diartikan, mereka tidak bisa mengindra dengan baik sesuatu yang dilihatnya, dan tidak satupun petunjuk yang dapat meluruskan pikiran mereka.

 

Ayat 38 :

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

 

Tafsir :

(Dan matahari berjalan) ayat ini dan seterusnya merupakan bagian daripada ayat Wa-aayatul Lahum, atau merupakan ayat yang menyendiri, yakni tidak terikat oleh ayat sebelumnya demikian pula ayat Wal Qamara, pada ayat selanjutnya (di tempat peredarannya) tidak akan menyimpang dari garis edarnya. (Demikianlah) beredarnya matahari itu (ketetapan Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya.

 

Ayat 58 : (سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ)

 (kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai Ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.

 

Tafsir :

(Kepada mereka dikatakan, "Salaam") kedudukan kalimat ini menjadi Mubtada (sebagai ucapan selamat) yang menjadi Khabar-nya ialah (dari Rabb Yang Maha Penyayang) kepada mereka, yakni Dia mengucapkan kepada mereka, "Kesejahteraan atas kalian."

 

Yang mereka inginkan itu ialah salam dan Allah SWT  yang disampaikan kepada mereka untuk memuliakan mereka.

Salam ini langsung disampaikan Allah SWT  atau mungkin dengan perantaraan malaikat, seperti firman Allah :

 

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 (Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salamun alaikum", masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. An Nahl(16): 32)

 

Salam berarti selamat dan sejahtera, terpelihara dari segala yang tidak disenangi memperoleh semua yang diingini sehingga orang itu memperoleh kenikmatan jasmani dan rohani yang tiada bandingannya.

 

Ayat 71 :

(أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ)

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa Sesungguhnya kami Telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang Telah kami ciptakan dengan kekuasaan kami sendiri, lalu mereka menguasainya?

 

Tafsir :

(Dan apakah mereka tidak melihat) tidak memperhatikan, Istifham di sini mengandung makna Taqrir dan huruf Wau yang masuk kepadanya merupakan huruf 'Athaf (bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka) ini ditujukan kepada segolongan manusia (dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami) dari hasil ciptaan Kami tanpa sekutu dan tanpa pembantu (yaitu berupa binatang ternak) unta, sapi, dan kambing lalu mereka menguasainya?) dapat memeliharanya.

 

Ayat 77-78:

(وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ)

Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang Telah hancur luluh?"

 

Tafsir :

Imam Thabrani mengetengahkan pula hadits yang serupa bersumber dari sahabat Ibnu Abbas r.a. Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadits yang dinilainya sebagai hadits sahih asalnya dari sahabat Ibnu Abbas r.a . yang menceritakan bahwa Ashi ibnu Wail datang kepada Rasulullah SAW  membawa tulang yang telah rapuh. Sesampainya di hadapan Rasulullah SAW, ia meremas-remas tulang itu hingga hancur, seraya berkata, "Hai Muhammad! Apakah tulang yang telah hancur ini akan dihidupkan lagi kelak?" Rasulullah SAW  menjawab, "Ya, Allah pasti akan menghidupkannya kembali, kemudian Dia akan mematikanmu dan menghidupkanmu kembali, selanjutnya Dia akan memasukkanmu ke dalam neraka Jahanam." Kemudian turunlah ayat ini, "Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani ..." (Q.S. Yasin, 77) sampai akhir surah ini. Ibnu Abi Hatim mengetengahkan pula hadits ini melalui jalur yang berasal dari Mujahid, Ikrimah, Urwah ibnu Zubair dan As Saddi. Di dalam hadits ini mereka menyebutkan bahwa orang yang membawa tulang tersebut adalah Ubay ibnu Khalaf.

 

Ayat  81:

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ

Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? benar, dia berkuasa. dan dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.

 

Tafsir :

(Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu) padahal langit dan bumi itu sangat besar (berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu) yaitu manusia yang kecil bentuknya itu. (بَلَى /Benar) Dia berkuasa untuk menciptakannya, di sini Allah  SWT menjawab diri-Nya sendiri. (Dan Dialah Maha Pencipta) banyak ciptaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) segala sesuatu.

 

Maraji' :

Tafsir Jalalain

Asbabun Nuzul

Tafsir Departemen Agama RI

 
HUKUM MEMBACA AL QUR'AN DEANGAN BAIK DAN BENAR
Selasa, 23 Juni 2009

Membaca AL Qur'an dengan baik dan benar, adalah wajib, dan salah satu ilmu yang merupakan alat untuk dapat membaca al Qur'an dengan baik dan benar, adalah Ilmu Tajwid. Ilmu ini harus dikuasai (minimal bagi muslim/muslimah) disamping ilmu-ilmu lain mengenai al Qur'an seperti Qira'ah, Tafsir. dll

 

Definisi :

معنى التجويد : التجويد لغة : التحسين والإتقان .

Menurut bahasa : membaguskan dan tepat

التجويد اصطلاحاً : إخراج كل حرف من مخرجه مع إعطائه حقه ومستحقه .

 Menurut Istilah : Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya dengan memberikan hak huruf dan mustahaq-nya

 

( حق الحرف : صفاته الذاتية اللازمة التي لا تفارقه كالجهر والشدة ).

Hak huruf adalah sifat asli yang selalu bersamanya seperti sifat al jahr/jelas, dan syaddah /penekanan

 

 ( ومستحق الحرف: صفاته العرضية التي يوصف بها أحياناً وتنفك عنه أحياناً أخرى، كالتفخيم والترقيق)

Mustahaq huruf adalah sifat yang nampak sewaktu-waktu seperti tafkhim/tebal atau tarqiq /tipis

حكمه : العلم به : فرض كفاية، والعمل به : فرض عين

Hukum mempelajari Tajwid adalah Fardlu Kifayah, sedangkan mengamalkan/membaca Al Qur’an sesuai dengan aturan ilmu Tajwid adalah Fardlu ‘Ain.

قال الله تعالى :  (( ورتل القرآن ترتيلاً ))

Dan bacalah Al Qur’an dengan tartil (QS Al Muzammil 73:4)

 

 وقال النبي صلى الله عليه وسلم: (( من لم يتغنّ بالقرآن فليس منا )).

Nabi SAW bersabda : Siapa saja yang tidak memuji/membaca dengan Al Qur’an maka bukan termasuk golangan-ku

 

غايته : صون اللسان عن اللحن في كلام الله تعالى .

Tujuan Mempelajari tajwid: menjaga lidah/lisan dari ketidak-tepatan/kesalahan (secara grammatical) dalam membaca Al Qur’an.

Kesalahan membaca Al Qur’an disebut Al Lakhnu

اللـــحـــن

Al Lakhnu ( اللحن ) ada 2 (dua) macam :

1 _  اللحن الجلي : وهو خطأ يطرأ على الألفاظ فيخل بمعاني القرآن كإبدال الطاء دالاً أو ضم تاء أنعمت أو تغيير حرف مكان حرف كأن يقول (الزي) مكان (الذي ). وسمي جلياً لوضوحه للقراء وغيرهم .

1. Al lakhnu Jaliy (اللحن الجلي) : adalah kesalahan yang terjadi pada lafadh yang menyalahi ‘urf al Qurro’ (kebiasaan ulama Qiro’at) dapat merubah arti Al Qur’an seperti mengganti طاء dengan تاء atau fatkhah dibaca dhommah atau الذي dibaca الزي. (lihat Contoh)

وحكمه : حرام يأثم القارئ بفعله .

Hukumnya adalah Haram

 

2 _ اللحن الخفي : هو خطأ يطرأ على الألفاظ فيخل بعرف القراءة دون المعنى كترك الغنّة ومد المقصور وقصر الممدود ، وسمي خفياً لاختصاص القراء بمعرفته .

 2. Al lakhnu Khofiy (اللحن الخفي) : adalah kesalahan yang terjadi pada lafadh yang menyalahi ‘urf al Qurro’ (kebiasaan ulama Qiro’at) tapi tidak merubah arti Al Qur’an seperti tidak membaca ghunnah, kurang panjang dalam membaca mad wajib .

      حكمه : مكروه وقيل حرام .

Hukumnya adalah Makruh (tapi sebagaian ulama mengatakan Haram)

 

 

Contoh : panjang di baca pendek

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan suka akan keindahan, dan  Al-Kibru itu adalah , "Menyepelekan kebenaran dan merendahkan  manusia." (Shahih Muslim)

Tapi bila dibaca pendek (الْجَمَل) maka berarti "Onta" atau menjadi

Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan suka Onta

   

Jadi, mempelajari tajwid dan membaca al qur'an dengan baik dan benar..memang harus.(Gus Arifin  )

 

 
Jangan Asal menafsirkan AL Qur'an !!
Senin, 22 Juni 2009

 Kita sering menjumpai acara Dakwah di TV atau Radio, dimana pak Ustadznya..menjelaskan ayat-ayat Al Qur'an hanya dari pengertian dan pemahamannya bahkan ada yang menafsirkan Al Qur'an dari terjemahannya...masya Allah!, sungguh ironis, dan berbahaya bila Al Qur'an di tafsirkan sendiri menurut kemauannya sendiri..Berikut kami sampaikan hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk siapa saja -khususnya- yang sudah dipanggil "ustadz/ustadzah":

1.       Tidak boleh menurut akal saja dalam menafsiri Al Qur'an.  

Definisi Tafsir adalah:

التفسير: في الأصل: هو الكشف والإظهار، وفي الشرع: توضيح معنى الآية، وشأنها، وقصتها، والسبب الذي نزلت فيه، بلفظ يدل عليه دلالةً ظاهرة.

Tafsir artinya membuka, memperlihatkan. Sedang arti istilahnya adalah menjelaskan makna ayat, kandunganya, alur ceritanya, sebab diturunkannya, rahasia kalimat khas yang dipakainya yang sangat mempengaruhi isinya." At Ta’rifat  bab Ta'

 Rasulullah SAW mengingatkan kita :

حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ عَنْ جُنْدُبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

Berkata Abu Imran, dari Jundub , ia berkata: Rasulullah SAW , bersabda: "Siapa berkata mengenai isi Kitabullah Azza wajalla (Al-Qur'an)) dengan pendapatnya sendiri, meskipun benar, itu tetap salah." (Abu Dawud).

 

 Teks hadits yan serupa :

من قال فى القرآن برأيه فقد أخطأ

(أبو داود ، والترمذى - غريب - والنسائى ، وابن جرير ، والبغوى ، وابن الأنبارى ، والطبرانى ، والبيهقى فى شعب الإيمان عن جندب) أخرجه أبو داود (3/320 ، رقم 3652) ، والترمذى (5/200 ، رقم 2952) ، والنسائى فى الكبرى (5/31 ، رقم 8086) ، والطبرانى (2/163 ، رقم 1672) . وأخرجه أيضًا : أبو يعلى (3/90 ، رقم 1520) ، وابن عدى (3/450 ، ترجمة 867 سهيل بن مهران) وقال : لا بتابع فى حديثه ومقدار ما يرويه من الحديث إفرادات ينفرد بها عن من يرويه عنه .

Siapa menerangkan Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri, meskipun benar, itu tetap dianggap salah (HR. Tiga Imam, dari Jundub, termasuk hadits hasan)'" Jami’us Shaghir II/177

Penjelasan (Sarh) hadits

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِي سُهَيْلِ بْنِ أَبِي حَزْمٍ وَهَكَذَا رُوِيَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ أَنَّهُمْ شَدَّدُوا فِي هَذَا فِي أَنْ يُفَسَّرَ الْقُرْآنُ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَأَمَّا الَّذِي رُوِيَ عَنْ مُجَاهِدٍ وَقَتَادَةَ وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُمْ فَسَّرُوا الْقُرْآنَ فَلَيْسَ الظَّنُّ بِهِمْ أَنَّهُمْ قَالُوا فِي الْقُرْآنِ أَوْفَسَّرُوهُُ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَوْ مِنْ قِبَلِ أَنْفُسِهِمْ وَقَدْ رُوِيَ عَنْهُمْ مَا يَدُلُّ عَلَى مَا قُلْنَا أَنَّهُمْ لَمْ يَقُولُوا مِنْ قِبَلِ أَنْفُسِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مَهْدِيٍّ الْبَصْرِيُّ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ مَا فِي الْقُرْآنِ آيَةٌ إِلَّا وَقَدْ سَمِعْتُ فِيهَا شَيْئًا حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ قَالَ قَالَ مُجَاهِدٌ لَوْ كُنْتُ قَرَأْتُ قِرَاءَةَ ابْنِ مَسْعُودٍ لَمْ أَحْتَجْ إِلَى أَنْ أَسْأَلَ ابْنَ عَبَّاسٍ عَنْ كَثِيرٍ مِنْ الْقُرْآنِ مِمَّا سَأَلْتُ

 

 Hadits dari Ibn Abbas r.a lebih jauh menerangkan:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقُوا الْحَدِيثَ عَنِّي إِلَّا مَا عَلِمْتُمْ  فَمَنْ كَذَبََ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

Dari Ibn Abbas رضي الله عنهما Dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: "Takutlah (berhati-hatilah) mengenai hadits/perkataan ku (tidak lain) hendaknya (engkau sampaikan) dari apa yang engkau ketahui (mempunyai ilmu), maka, siapa yang berkata atas namaku (memalsu hadits) maka silahkan mengambil tempatnya di neraka, dan siapa yang berkata mengenai isi Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri, maka silahkan mengambil tempatnya di neraka." (Sunan Tirmidzi). Berkata Abu Isa: ini hadits Shahih

 

2.      Ilmu yang harus dikuasai oleh "Penafsir" Al Qur'an:

Ilmu Asbabun Nuzul, Nasikh Mansukh, Sirah/sejarah Nabawiyah, ilmu Bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, Balaghah, Bayan, Ma'any, Badi'), Tafsir dan Qira'ah , Hadits, Musthalah Hadits, Ushul Fiqh, Ilmu Mantiq (logika). Jadi untuk mengurai satu ayat tidak kurang 14 disiplin ilmu yang harus dikuasai.

 Maka, bagi Ustadz/ustadzah atau ulama' , ajengan dan kyai yang memang mempunyai ilmu yang cukup dan memang Mufassir atau ahli tafsir Al Qur'an, tidak masalah untuk menafsiri al Qur'an. Namun kalau memang belum mampu menjadi Mufassir, cukup baginya mampu membaca Kitab-kitab Tafsir ..Insya Allah lebih "aman" ...(gusarifin)


 
PENGUMUMAN
Jumat, 05 Juni 2009

Serpong (aai-jatiqo News):

Bersama ini di umumkan :

1. Kelas Baru Kursus Membaca Kitab Gundul dimulai Hari Ahad tanggal 7 Juni 2009 Jam 09.00 WIB, Para peserta membawa Buku Tulis dan Pansil 2B atau HB.

2. Kelas Senior, Jam 10.05 WIB

Oleh karena, tempat training sedang ada renovasi (pemasangan keramik lantai), maka dengan ini diumumkan kepada seluruh peserta Training bahwa:

Tempat Training untuk sementara (dua Minggu) dipindahkan ke Majelis Ta'lim At Taqwa Nusa Indah Loka (peserta yang belum tahu lokasi ini, dipersilahkan menuju ke Grha AAI Fedora J02/1, dan selanjutnya akan ditunjukkan ke At Taqwa Nusa Indah Loka)

Demikian, pengumuman ini harap ma'lum.

Departemen IT dan Data, Agus Arifin Institute

 

 
Workshop ke 2 Guru TPQ se Graha Raya Bintaro Jaya
Sabtu, 30 Mei 2009
Serpong (aai-news): 

WORKSHOP yang ke 2 bagi Ustadz/Ustadzah TPQ se Graha Raya Bintaro Jaya untuk menuju Kualifikasi Minimum Ustadz/ustdzah TPQ, yang Insya Allah akan diselenggarakan pada Ahad 21 Juni 2009 di Masjid Al Barkah - Anggrek Loka.  Acara Workshop ini merupakan kerjasama antara Ikatan Warga Muslim Graha Raya Bintaro Departemen Muslimah dan Jam'iyah Tilawatil Qur'an.

Subyek pembahasan dalam Wokshop ke 2 ini antara lain, pemantapan dan penguasaan materi Tajwid, Materi Bahasa Arab dan Ujian bagi peserta yang belum mencapai kualifikasi minimum pada Workshop yang pertama (21/12/2008). Fasilitator Workshop ini adalah Tim dari Jatiqo antara lain Ustadzah Ellin R, dan juga Raa'is Aam Jam'iyah Tilawatil Qur'an, Gus Arifin.

"Mudah-mudahan cita-cita kita untuk menjadikan TPQ sebagai basis pengembangan para ahli-ahli Al Qur'an di tahun-tahun mendatang, Insya Allah." kata Gus Arifin beberapa waktu lalu di pandeglang. (it dept jatiqo/aai)


 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 15 dari 32